Dalang Sebenarnya Demo 28 Agustus 2025: Masyarakat Dibenturkan dengan Aparat

NOVA ISKANDAR
30 Agu 2025 13:20
Nasional 0 7
2 menit membaca

Jakarta – Peristiwa demonstrasi besar pada 28 Agustus 2025 yang awalnya berjalan damai berubah menjadi kericuhan yang menorehkan luka mendalam. Aksi yang digelar ribuan buruh, mahasiswa, dan masyarakat di depan Gedung DPR RI seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi, namun justru berujung bentrokan dengan aparat hingga menelan korban jiwa.

Ketua Umum DPP Perhimpunan Gerakan Nusantara Raya (PGNR), Oktaria Saputra, menegaskan bahwa tragedi ini bukanlah semata-mata persoalan teknis pengamanan atau letupan emosi massa. Ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan momentum untuk membenturkan masyarakat dengan aparat.

“Aspirasi rakyat adalah suara yang sah dan konstitusional. Namun fakta di lapangan menunjukkan ada upaya sistematis untuk menciptakan kekacauan. Pertanyaannya jelas: siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?” tegas Oktaria. Sabtu (30/08/2025).

Narasi Dalang yang Simpang Siur

Keterangan resmi kepolisian menyebut adanya penyusup yang memprovokasi kericuhan. Sementara mantan Kepala BIN, A.M. Hendropriyono, menuding adanya intervensi asing yang memanfaatkan rakyat Indonesia sebagai pion. Dua narasi ini sama-sama belum dibuktikan secara transparan kepada publik.

Oktaria menilai simpang siurnya narasi justru semakin memperkeruh keadaan dan menjauhkan rakyat dari kebenaran.

Rakyat yang Menjadi Korban

Yang paling dirugikan dari kericuhan 28 Agustus adalah rakyat sendiri. Buruh yang memperjuangkan hak, mahasiswa yang menyuarakan idealisme, hingga masyarakat kecil seperti pengemudi ojek online yang menjadi korban tabrakan kendaraan taktis Brimob.

“Baik rakyat maupun aparat sama-sama anak bangsa. Mereka seharusnya tidak boleh dijadikan alat kepentingan politik siapa pun. Benturan yang terjadi kemarin jelas merupakan skenario yang sengaja diciptakan,” ujar Oktaria.

Seruan Transparansi dan Keadilan

PGNR mendesak pemerintah, aparat penegak hukum, dan lembaga independen untuk membuka investigasi menyeluruh, transparan, dan dapat diakses publik. Kebenaran harus ditegakkan, bukan dikaburkan dengan narasi yang saling bertentangan.

“Kita tidak boleh lagi membiarkan rakyat selalu dikorbankan. Dalang sejati harus diungkap seterang-terangnya, agar peristiwa 28 Agustus tidak menjadi pola berulang di negeri ini,” tutup Oktaria Saputra.

x
x