Mahfud MD Mengaku Tak Ada Pembahasan Soal Cawapres dengan Megawati

HAK SUARA
3 Okt 2023 22:13
Politik 0 97
2 menit membaca

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan tidak ada pembahasan terkait tawaran menjadi cawapres di setiap momen pertemuannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, termasuk saat Rakernas IV PDIP.

“Oh, ndak ada, masa nawarin cawapres di tempat begitu. Nanti urusan Bu Mega yang akan menentukan jadwalnya,” kata Mahfud kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Mahfud menyebut dirinya memang telah bertemu dengan Megawati, namun tidak ada pembahasan mengenai cawapres pendamping bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo.

Menurut dia, pertemuan tersebut hanya membahas mengenai konstitusi dan ideologi sesuai dengan ranah masing-masing, yaitu Megawati juga merupakan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Terkait sejumlah survei dan pandangan pengamat yang mengungkapkan pasangan Ganjar-Mahfud memiliki jumlah pendukung cukup tinggi, Mahfud enggan berkomentar lebih jauh.

Menurut dia, hal tersebut bisa bergerak dan berubah-ubah hingga jadwal pendaftaran bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dimulai pada 19 Oktober hingga 25 November 2023.

“Ya itu biar berkembang lah sesuai dengan perkembangan politik kita dan mengarah pada jadwalnya nanti,” ujar Mahfud.

Sebelumnya, pada Selasa (26/9), peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai sosok Mr. X dan Mrs. X yang disebutkan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) pendamping Ganjar Pranowo adalah Mahfud Md dan Khofifah Indar Parawansa.

Saidiman Ahmad menilai kedua tokoh tersebut adalah kader Nahdlatul Ulama (NU) dan berasal dari Jawa Timur.

Menurut dia, jika melihat sejarah PDI Perjuangan dalam kontestasi pemilu presiden, partai tersebut selalu menggandeng tokoh NU menjadi cawapres, kecuali pada Pilpres 2009, saat Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Prabowo Subianto.

“Mahfud pertimbangannya adalah representasi NU dan Jawa Timur. NU dan Jatim selama ini suaranya condong kepada Ganjar sehingga dengan memunculkan Mahfud, kemungkinan untuk menjaga basis massa,” ujar Saidiman di Jakarta, Selasa (26/9).

Saidiman menjelaskan bahwa PDI Perjuangan berkepentingan menjaga basis massa, jangan sampai pindah karena ada upaya dari Anies Baswedan untuk menarik massa NU dan Jatim dengan merekrut Muhaimin Iskandar. (antara/fajar)

Kerlas Kerja

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x