HSuara.co.id Jateng Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan untuk menata ulang kawasan Sorogenen menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) pasca-fungsinya sebagai pasar darurat kini memicu polemik. Kebijakan ini bertujuan menghapus kesan kumuh dan menanggulangi banjir setelah hujan lebat di wilayah sorogenen,namun penataan tersebut menuai penolakan dari sebagian pedagang yang enggan direlokasi.
Pantauan di lapangan tim media menunjukkan kondisi saluran air di kawasan Sorogenen saat ini tergolong kritis. Banyaknya sampah yang menyumbat drainase serta tidak berfungsinya saluran air menjadi salah satu pemicu utama banjir setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Pekalongan, Khaerudin, menyatakan bahwa penumpukan sampah di saluran air eks pasar darurat Sorogenen tersebut diduga berasal dari aktivitas pedagang yang membuang sampah sembarangan.
”Meskipun tim DPUPR telah berulang kali melakukan pembersihan rutin, sampah kerap kembali menumpuk dan memenuhi saluran hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga hari,” ungkap Khaerudin.
Pihaknya menegaskan akan segera melakukan normalisasi saluran di sisi selatan. Langkah ini sangat krusial karena saluran tersebut berfungsi menampung aliran air dari Jalan Agus Salim dan wilayah sekitar Namun, proses ini masih terkendala karena adanya lapak pedagang yang masih beroperasi hingga sore hari di dekat saluran. Akibat dari drainase yang tidak lancar menyebabkan genangan air kerap muncul di Jalan Agus Salim dan wilayah Sorogenen saat hujan lebat.ujar khaerudin
Di sisi lain, para pedagang bersikeras menolak pindah ke lokasi relokasi yang telah disiapkan oleh Pemkot Pekalongan. Mereka khawatir kebijakan tersebut akan mengganggu kelangsungan ekonomi mereka.
”Kami mau ditata, tapi carikan tempat yang ramai. Kalau di tempat relokasi pasar yang ditunjuk oleh pemerintah terlihat sepi, bisa mengakibatkan dagangan kami tidak laku,” ujar pedagang di kawasan Sorogenen.
Aspirasi ini telah disampaikan melalui aksi orasi dan audiensi di Gedung DPRD Kota Pekalongan minggu lalu. Mereka meminta agar pemerintah mempertimbangkan lokasi yang lebih strategis dan ramai pengunjung untuk tempat berjualan yang baru.
Berbeda dengan sikap pedagang, warga setempat justru memberikan dukungan penuh terhadap langkah Pemkot Pekalongan. Bagi warga, pengembalian fungsi Sorogenen menjadi RTH adalah harapan yang telah dinantikan selama puluhan tahun.
”Berdasarkan penuturan warga, sekitar 80 persen penduduk di sekitar area tersebut sangat mendukung pengembalian fungsi Sorogenen menjadi RTH. Kami sangat setuju Sorogenen dikembalikan seperti dulu sebagai ruang terbuka hijau. Sudah puluhan tahun kami menantikan agar wilayah ini tidak lagi kumuh dan banjir saat hujan,” ujar salah satu warga.
Warga berharap penataan ini dapat segera dilakukan agar masalah sampah dan drainase yang mampet dapat teratasi dengan permanen, sehingga kenyamanan lingkungan mereka dapat kembali pulih serta kerinduan akan taman sorogenen bisa terobati. Ungkap nya













