Scroll untuk baca artikel
Nasional

Prabowo Minta Wartawan Keluar saat KSTI 2026, Ini Kronologi Lengkap dan Alasan Forum Dilanjutkan Tertutup

×

Prabowo Minta Wartawan Keluar saat KSTI 2026, Ini Kronologi Lengkap dan Alasan Forum Dilanjutkan Tertutup

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Momen Presiden Prabowo Subianto meminta awak media meninggalkan ruangan saat pembukaan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 menjadi perhatian publik. Potongan video yang beredar di media sosial memunculkan narasi bahwa wartawan “diusir” dari forum tersebut.

Namun, berdasarkan kronologi acara dan sejumlah laporan media yang meliput langsung kegiatan tersebut, permintaan itu disampaikan setelah Presiden menyelesaikan pidato pembukaannya dalam sesi yang terbuka untuk umum.

Selanjutnya, acara berlanjut ke forum diskusi yang digelar secara tertutup bersama para guru besar, rektor, peneliti, dan akademisi.

Perubahan format forum tersebut dilakukan setelah sesi pembukaan selesai dan merupakan bagian dari agenda Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 yang dirancang untuk membahas berbagai isu strategis secara lebih mendalam.

*Kronologi Perubahan Sesi Terbuka Menjadi Forum Tertutup*

Presiden Prabowo membuka Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 yang dihadiri sekitar 2.600 peserta dari kalangan akademisi, guru besar, peneliti, pimpinan perguruan tinggi, serta pejabat pemerintah.

Pada sesi awal, Presiden menyampaikan pidato yang disiarkan secara terbuka, termasuk melalui kanal resmi Sekretariat Presiden. Dalam pidatonya, Presiden menekankan pentingnya peran perguruan tinggi, riset, dan inovasi dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Setelah menyelesaikan pidato pembukaan, Presiden menyampaikan bahwa agenda akan dilanjutkan dalam bentuk dialog yang bersifat terbatas. Pada tahap inilah awak media diminta meninggalkan ruangan karena forum akan beralih menjadi sesi diskusi tertutup.

Bersamaan dengan itu, siaran langsung yang sebelumnya berlangsung juga dihentikan sebelum dialog internal dimulai.

*Alasan Presiden Melanjutkan Dialog Secara Tertutup*

Presiden Prabowo menjelaskan bahwa sesi berikutnya dimaksudkan sebagai ruang diskusi yang lebih terbuka dengan kalangan akademisi. Dalam forum tersebut, Presiden ingin memaparkan sejumlah data serta fakta yang menjadi bahan pembahasan bersama.

Sebagaimana dikutip RMOL, Presiden mengatakan,

> “Saya kira teman-teman media cukup ya. Saya mau bicara dari hati ke hati dengan para guru besar.”

Pernyataan tersebut menjadi penjelasan bahwa perubahan format forum dilakukan agar dialog berlangsung lebih leluasa bersama para peserta yang berasal dari kalangan akademisi dan ilmuwan.

Laporan Kompas TV maupun Detik juga menunjukkan bahwa forum setelah pidato pembukaan memang berlangsung secara tertutup sebagai bagian dari agenda sarasehan.

*Memahami Konteks Narasi “Wartawan Diusir”*

Munculnya istilah “wartawan diusir” di media sosial merupakan salah satu narasi yang berkembang setelah potongan video acara beredar.

Jika melihat keseluruhan rangkaian kegiatan, permintaan kepada awak media dilakukan ketika sesi terbuka telah berakhir dan agenda memasuki diskusi internal.

Dalam rekaman yang beredar, Presiden menyampaikan permintaan tersebut secara langsung dengan bahasa yang santun.

Bahkan sebelum forum dimulai, Presiden juga mempersilakan wartawan menikmati jamuan yang telah disiapkan panitia.

> “Terima kasih teman-teman media, silakan menikmati makanan yang ada di luar.”

Tidak terdapat laporan mengenai tindakan represif terhadap awak media. Perubahan status forum lebih merupakan pemisahan antara sesi terbuka dan sesi diskusi terbatas yang lazim dilakukan dalam berbagai forum pemerintahan maupun akademik.

*Sarasehan KSTI 2026 Bahas Riset, Teknologi, dan Kemandirian Ekonomi*

Di luar perhatian terhadap dinamika peliputan media, Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 merupakan forum yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan dunia industri untuk membahas arah pembangunan nasional berbasis sains dan teknologi.

Dalam siaran pers Sekretariat Presiden, Prabowo menegaskan pentingnya peran kampus sebagai motor pembangunan nasional.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam mengejar ketertinggalan teknologi. Kita membutuhkan kampus sebagai motor kemandirian ekonomi.”

Forum tersebut juga membahas sejumlah isu strategis, antara lain penguatan riset nasional, hilirisasi industri, pengembangan inovasi teknologi, peningkatan daya saing industri, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha.

*Forum Tertutup Diharapkan Memperkuat Sinergi Pemerintah dan Akademisi*

Sesi tertutup dimanfaatkan sebagai ruang dialog dua arah antara Presiden dengan para guru besar, rektor, peneliti, dan akademisi.

Melalui format tersebut, para peserta dapat menyampaikan pandangan, rekomendasi, maupun kritik secara lebih mendalam mengenai berbagai tantangan pembangunan nasional, termasuk penguatan riset, pengembangan teknologi, industrialisasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dengan demikian, tujuan utama Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 tidak hanya penyampaian pidato Presiden, tetapi juga membangun sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri dalam merumuskan berbagai solusi bagi pembangunan nasional.

Peristiwa saat Presiden Prabowo meminta wartawan meninggalkan ruangan dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 perlu dipahami berdasarkan kronologi secara utuh. Permintaan tersebut disampaikan setelah sesi pidato terbuka selesai dan forum memasuki dialog terbatas bersama kalangan akademisi.

Di luar perdebatan mengenai narasi yang berkembang di media sosial, substansi utama forum tetap berfokus pada penguatan riset, pengembangan sains dan teknologi, hilirisasi industri, serta upaya membangun kemandirian ekonomi melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri.