Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Ekonomi Bisnis

Rupiah Sempat Melemah ke Rp17.400, BI dan Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

×

Rupiah Sempat Melemah ke Rp17.400, BI dan Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA-Nilai tukar rupiah yang sempat menembus kisaran Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Tidak sedikit narasi yang langsung mengaitkan pelemahan rupiah dengan kondisi ekonomi Indonesia yang dianggap sedang memburuk.

Namun di tengah derasnya sentimen negatif tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia memastikan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu faktor global dibanding persoalan fundamental ekonomi nasional.

banner 325x300

Bahkan, di saat rupiah mengalami tekanan, ekonomi Indonesia justru mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 atau menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

*Rupiah Menguat Setelah Pemerintah dan BI Bergerak*

Rupiah mulai menunjukkan penguatan setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat koordinasi bersama otoritas ekonomi dan Bank Indonesia untuk merespons gejolak pasar keuangan.

Pada perdagangan Rabu (6/5), rupiah tercatat menguat tipis sekitar 0,03 persen setelah sebelumnya sempat tertekan mendekati Rp17.445 per dolar AS.

Langkah pemerintah dan BI yang memperkuat koordinasi kebijakan dinilai berhasil memberi sentimen positif ke pasar dan meredakan tekanan terhadap mata uang Garuda.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan pihaknya akan melakukan intervensi besar-besaran atau “all out” demi menjaga stabilitas rupiah, baik di pasar domestik maupun offshore.

Selain intervensi pasar valas, BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS dengan menurunkan batas kewajiban dokumen underlying menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan guna mengurangi aktivitas spekulatif.

*Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Global*

Menurut Perry Warjiyo, tekanan terhadap rupiah terjadi akibat kombinasi faktor eksternal yang juga memukul banyak mata uang negara berkembang lainnya.

Beberapa faktor utama yang disebut memengaruhi pasar antara lain tingginya suku bunga bank sentral AS The Fed, penguatan dolar AS, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga arus keluar modal asing dari emerging market.

Selain itu, faktor musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan meningkatnya kebutuhan devisa korporasi turut mendorong permintaan dolar AS dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah dinilai bukan semata-mata akibat kebijakan domestik atau lemahnya ekonomi nasional seperti yang berkembang di media sosial.

*Ekonomi Indonesia Justru Tumbuh Tinggi*

Di tengah tekanan global, sejumlah indikator ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja positif.

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 14 kuartal terakhir.

Pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat serta meningkatnya belanja pemerintah.

Selain itu, inflasi nasional juga masih berada dalam rentang target pemerintah dan Bank Indonesia, sehingga stabilitas harga dinilai tetap terjaga.

Bank Indonesia bahkan menyebut nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat.

*Persepsi Publik dan Data Ekonomi Kerap Berbeda*

Ramainya sentimen negatif di media sosial memperlihatkan adanya perbedaan antara persepsi publik dengan indikator ekonomi makro.

Sebagian masyarakat merasakan langsung tekanan ekonomi sehari-hari seperti kenaikan harga barang dan biaya hidup, sehingga pelemahan rupiah kerap dianggap sebagai tanda krisis.

Padahal dalam parameter ekonomi global, krisis biasanya ditandai kontraksi ekonomi, lonjakan inflasi tinggi, hingga gangguan sistem keuangan yang serius.

Sementara itu, Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif, inflasi terkendali, dan stabilitas sektor keuangan yang relatif terjaga.

Karena itu, pemerintah menilai narasi yang menyebut Indonesia sedang mengalami “krisis total” tidak sepenuhnya sejalan dengan data ekonomi yang ada.

*Menjaga Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global*

Pemerintah dan Bank Indonesia memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Di tengah ketidakpastian global, stabilitas nilai tukar rupiah dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap Indonesia.

Analis juga menilai optimisme pasar menjadi faktor penting agar sentimen negatif tidak berkembang menjadi kepanikan yang justru memperburuk kondisi ekonomi.

Dengan fundamental ekonomi yang masih terjaga serta intervensi aktif pemerintah dan BI, pelemahan rupiah dinilai lebih mencerminkan tekanan global jangka pendek dibanding gambaran runtuhnya ekonomi Indonesia.